Sabtu, 20 Juni 2015

Prompt #81 - Lompatlah! Lalu Terbang!



“Lompatlah! Lalu terbang!”

Aku rindu kakakku, kakak laki-lakiku satu-satunya. Dahulu, aku dan kakakku sering menghabiskan waktu bermain ayunan bersama yang tergantung pada pohon di belakang rumah. Hampir setiap hari, sepulang sekolah. Malah terkadang, kala bulan sedang penuh, putih pucat seperti wajahnya.

“Ayo! Lompatlah! Lalu terbang bersama burung-burung,” katanya waktu itu.

Waktu di saat ia memutuskan untuk pergi, terbang bersama burung. Waktu fajar baru saja menyingsing dari ufuk timur, waktu Mama masih dibalut selimut, ia mengajakku ikut bersamanya. Dan waktu itu pula, aku menolaknya.

“Mengapa kau ingin pergi?” tanyaku padanya.
“Aku ingin bebas.”
“Kau akan meninggalkan Mama?”

Ia tersenyum.
Aku tak mengerti.

“Percayalah, Mama dan Papa akan lebih bahagia jika aku pergi.”
“Mengapa?”
“Nanti kau akan mengerti setelah kau dewasa.”

Aku masih ingat senyum manisnya sesaat sebelum ia melompat, dan terbang bersama burung-burung. Raut wajah yang takkan kulupa dan takkan mungkin bisa kulupa. Wajah orang yang paling kusayang setelah Mama, setelah Papa.

Tapi—kupikir, itu dulu. Karena kini, entahlah. Mungkin hanya dia orang yang paling kusayang, orang yang paling ingin kujumpa.

Kini, setelah aku mengerti alasan ia pergi, setelah aku jatuh cinta pada seseorang yang tak semestinya kucinta. Setelah kuukir tanda tanya pada hal-hal yang dulu kuimani. Setelah aku mulai bertanya ini itu pada diriku sendiri, pada Mama, pada Papa, pada pendeta. Dan setelah Mama mulai diam, enggan bicara padaku. Papa menutup telinganya dariku. Kurasa, lebih baik aku seperti dia, seperti kakakku. Lompat, dan terbang bersama burung-burung.

Lompatlah! Lalu terbang bersama burung-burung!

Kuyakinkan diriku sendiri.
Kubulatkan tekadku.

Dan di sini, di pohon belakang rumah tempat dulu aku bermain ayunan, yang kini telah kulepas ayunan itu dari dahan menggantungnya, aku berada. Di bawah langit yang tengah dirundung mendung, bersama burung-burung yang hinggap dan beberapa yang terbang dalam damai, kunyanyikan senandung terakhirku untuk Mama, untuk Papa.

Mungkin mereka tak dengar, sebab masih terlelap dalam kelambu, sebab guntur mengalahkan suaraku. Tapi mungkin, benar apa kata kakakku. Mama Papa akan lebih bahagia jika aku pergi. Mungkin.

Maka, kupejamkan mataku.

Kuhirup nafas dalam.

Aku melompat.

Lalu terbang bersama burung-burung.







333 kata untuk meramaikan Prompt #81 – Lompatlah! Monday FlashFiction

Tidak ada komentar:

Posting Komentar