Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Aku Tak di Sana - Fajar Ütomo (Puisi)


Deru tembakkan pekak telinga
Bambu runcing berhambur di udara
Aku tak di sana
Aku belum tercipta

Negaraku kini sudah merdeka
Bangsaku beranjak dewasa
Namun diriku tak di sana
Duduk manis di ruang kerja

Lalu kemakmuran tunggang langgang
Tinggal jelata kurus telanjang
Diriku tetap tak di sana
Aku sibuk membangun negeri,
Kataku

Jadilah rakyatku setengah keledai
Jadilah negeriku jauh dari damai
Namun hatiku masih tak peduli
Aku korupsi, kenyangkan perut sendiri

Sampailah hari ini rakyatku bergembira
Sambut merdeka yang sederhana lagi fana
Namun aku tak di sana lagi
Aku meringkuk dalam jeruji

Negeriku Yang Merdeka, 17 Agustus 2015
Selamat Hari Kemerdekaan Yang Ke-70

Jumat, 29 Mei 2015

Bagaimana - Fajar Utomo

Aku bicara
Tak ada yang dengar
Aku mendengar
Tak ada yang bicara

Maka diriku diam
Hingga mereka berkata,
"Jangan diam saja!"
Lantas aku harus bagaimana?

Mereka bercerita
Tentang jati diri
Jadi diri sendiri
Jangan suka meniru-niru

Lalu aku begitu
Tapi malah mereka larang
Aku tersenyum
Mereka garang

Aku diam lagi
Aku harus bagaimana?

Dunia Yang Luas, 29 Maret 2015
12.23 Waktu Negeri Orang-orang Linglung

Rabu, 04 Februari 2015

Jangka oleh Fajar Utama (Puisi)

Jangka - Fajar Utama

Sungguh aku tak bermaksud menulis sajak
Namun jemariku terus berpijak
Di atas selembar kertas setengah lecak
Pikirku kacau, lidah berdecak

Sungguh aku tak ingin jadi kurang ajar
Maksud hatiku hanya ingin mengajar
Namun tanganku kelewat kasar
Perkara batin ini dibuat gusar

Aku tahu
Aku mengerti
Jangka itu untuk menggambar
Bukan guna mengajar

Aku akui
Aku menyesal
Gundukan itu masih basah
Tinggal di hati rasa bersalah

Sungguh orang ini sejatinya orang baik
Sedang aku hanya bajingan yang hidupnya tak laik
Maka jika Tuan berkenan
Izinkan darah ini ku persembahkan

Kamarku Yang Gelap, 30 Januari 2015

Rabu, 28 Januari 2015

Hengkang oleh Fajar Utama (Puisi)


Hengkang – Fajar Utama


Hengkang

Warasku telah hilang

Terbang melayang ke awang-awang

Ku pergi karena menyimpang



Perih

Bilur di hati, batin merintih

Luka di diri, raga tertatih

Merah bagai mengunyah sirih



Hengkang

Rumah baru rumput ilalang

Luntang-lantung tubuh telanjang

Kurang makan kering kerontang



Geram

Wajah keriput memerah padam

Hatinya gusar menaruh dendam

Bak sayur kebanyakan garam



Hengkang

Anak tercinta semata wayang

Kecil dimanja, kecil ditimang

Besar durhaka jadi MalinKundang



Bapak

Ibu

Maafkan anakmu ini

Anakmu bukan anak bawang

Anak fajar cahaya gemilang

Tapi sayang akalnya tak pernah gamblang