Selasa, 11 Oktober 2016

WiFi Gratis

WiFi Gratis adalah sebuah cerita seram tentang seorang gadis yang keluarganya tak mampu menyediakan internet untuknya. Ia mendengar tentang sebuah layanan yang menyediakan layanan internet secara gratis.



Namaku Masha. Umurku enam belas tahun dan aku tinggal di kota kecil di Rusia. Gaji ayahku tak terlalu besar dan kami bukan keluarga yang kaya raya. Ada banyak hal yang tak mampu kami beli. Salah satunya ialah koneksi internet.

Suatu hari saat aku sedang berada di sekolah, seorang temanku berkata bahwa ia mendengar rumor tentang jasa yang memberikan koneksi internet secara gratis. Katanya, yang perlu dilakukan hanyalah terkoneksi dengan jaringannya yang bernama “WiFi Gratis” dan kita bisa berselancar di dunia maya tanpa perlu membayar sepeser pun. Kedengarannya hampir terlalu menyenangkan jika benar.

Sore harinya saat kupulang, aku memutuskan untuk mencobanya. Kubuka komputer jinjingku dan kutemukan jaringan bernama “WiFi Gratis”. Sinyalnya luar biasa, jadi kupilih dan kutekan tombol “Hubungkan”. Jendela browser-ku terbuka otomatis dan dalam huruf merah berlatar belakang hitam, sebuah teks muncul:

“Selamat Datang di WiFi Gratis! Terima kasih telah berkunjung! Kami tidak memungut biaya apa pun. Kami tidak membutuhkan registrasi apa pun. Yang perlu kami ketahui hanyalah sedikit informasi tentang pengunjung kami. Mohon jawab pertanyaan berikut.”

Empat buah gambar terpampang di halaman itu. Sebuah bus, sebuah perahu, sebuah kereta api, dan sebuah pesawat terbang.

Di bawahnya, ada sebuah pertanyaan:
“Apa moda transportasi yang biasa Anda gunakan?”

Aku bersepeda ke sekolah. Ayahku tak punya mobil dan kami tak pernah mampu untuk pergi berlibur ke mana pun. Aku tak menggunakan satu pun moda transportasi itu, jadi kupilih saja kereta secara asal dan kuklik gambarnya.

Sebuah pesan “Terima Kasih” muncul di layar dan kemudian aku bisa berselancar di internet. Aku begitu gembira. Inilah solusi untuk semua masalahku. Sekarang, aku bisa membuat akun Facebook dan bertukar kabar dengan teman-temanku di Twitter dan Instagram.

Esoknya, kala aku sedang menonton televisi, acaranya dipotong dengan tayangan berita sekilas. Seorang reporter berkata bahwa baru saja terjadi sebuah kecelakaan hebat. Sebuah kereta anjlok dan keluar dari jalurnya ketika tengah melewati jembatan. Beberapa gerbong terpental ke sungai di bawah jembatan dan hampir semua penumpangnya tewas.

Aku merasa ngeri. Aku teringat situs yang kukunjungi semalam. Aku memilih gambar kereta. Kucoba meyakinkan diriku bahwa itu hanya kebetulan. Maksudku, apa yang akan terjadi jika kupilih gambar pesawat? Akankah ada kecelakaan pesawat esoknya? Hal itu begitu konyol.

Sore itu, aku harus menggunakan internet lagi. Kuhubungkan ke WiFi Gratis dan lagi, halaman yang sama muncul. Kali ini, pertanyaannya berbeda.

Ada empat gambar rumah: sebuah bungalo, sebuah rumah berlantai dua, sebuah rumah berlantai tiga, dan sebuah apartemen.

Di bawahnya, tertulis sebuah pertanyaan dalam huruf-huruf besar berwarna merah menyeramkan:
"Tipe rumah seperti apa yang Anda huni?"

Keluargaku tinggal di sebuah bungalo dan tadinya aku ingin memilih gambar itu sampai akhirnya kuurungkan. Jariku terdiam di atas tombol mouse namun tak juga aku menekannya. Bagaimana jika kecurigaanku terbukti benar? Aku penasaran. Itu pikiran yang bodoh, tapi aku tak dapat mengambil kesempatan itu.

Maka, aku malah memilih gambar gedung apartemen, hanya untuk berjaga-jaga. Sebuah pesan “Terima Kasih” berlalu dan aku bisa langsung terkoneksi dengan internet lagi.

Keesokan harinya, gedung apartemen di dekat sekolahku terbakar. Untungnya, kebakaran terjadi pada siang hari, saat kebanyakan penghuninya sedang tak di rumah. Sekitar dua puluh orang tewas terpanggang. Polisi berpendapat bahwa kejadian ini disengaja.

Aku khawatir. Hal ini mulai terlihat seolah lebih dari sekadar kebetulan. Tak peduli seberapa gila kedengarannya, aku curiga bahwa entah bagaimana, WiFi Gratis-lah yang menyebabkan tragedi ini. Aku memutuskan bahwa akan lebih baik jika aku tak menggunakan jaringan itu lagi.

Namun malam harinya, aku mulai meragu. Semakin kupikirkan hal itu, semakin nampak bodoh pula hal itu. Apakah aku hanya paranoid? Bagaimana bisa terhubung dengan WiFi Gratis mengakibatkan kematian seratus orang lebih? Siapa yang akan percaya hal itu mungkin saja terjadi?

Setelah menimbang-nimbang selama hampir satu jam, aku yakin bahwa itu hanya sebuah kebetulan besar. Kuraih komputer jinjingku, kunyalakan, dan kuhubungkan dengan WiFi Gratis.

Jendela browser-ku terbuka lagi. Ada empat buah gambar. Saat aku melihatnya, aku terkejut bukan kepalang.

Gambar-gambar itu ialah gambar ibuku, ayahku, adikku, dan aku...
Di bawahnya, pertanyaannya tertulis dalam huruf besar berwarna merah menyeramkan:







“Siapakah anggota keluarga yang paling Anda sayangi?”






Sumber : Free WiFi

2 komentar: